Hari ini bersama Habib Jafar, terima kasih akhirnya main kesini.Terima kasih akhirnya diundang kesini.Padahal kita sering saling melihat, saling tau.Terakhir kali ketemu itu, gak tau yang mana dulu?Kawinan AT atau Bandara Halim?Pertama kali itu di Bandara Halim.
Dan gua gak tau.
Treatment ke Radit gimana ya?Maksudnya apa tuh?Kok treatment ke Radit?Iya maksudnya, gue kan berusaha karena background gue pendakwah kan, gue tuh berusaha...
Lu maksudnya apa ini kok?Enggak, enggak, enggak.
Gue kan sudah gagal dengan Coki dan Onat.Jadi kok masuk kelongkok yang sama?Enggak sih.Cuman...Si ada si.Radit login dua kata lucu sih.
Kok jadi gue yang ngeloncok?
Gue kan dulu di ceng -cengin soal begituan ya Gue nonton di final suci kemarin kan Ya itu becandaan anak -anak lah Si Panji bilang kantor gue gak ada musholanya Gue baru sholat di musholanya Yadika Dan mungkin salah satu mushola yang paling ideal menurut gue Oh iya ya?Karena di musholanya pertama Tidak bau kaki.Itu penting menurut gue.Gue pernah bikin movement untuk ngirimin pewangi -pewangi ke masjid -masjid dan mushola -mushola agar wangi lah.Karena ganggu banget kan.Karena titik terdekat kita dengan Tuhan itu saat sujud.
Kalau ada bau kaki pasti ganggu banget sih.Kemudian yang kedua, ini ada buku -bukunya.Walaupun kayaknya buku -bukunya hadiah dari tamu -tamu podcast.Gua minat ini buku Dr .Gia, buku Bu Adi.
Ada Mas Bu Adi, ada buku Dr .Gia.Kadang -kadang kalo udah kita baca, anak -anak pengen minjem, taro situ.Soalnya disitu ada tempat buat tidur juga.Di daerah sana, sebelah sananya lagi ada tempat tidur.
Tempat tidur ya?Ada.Eh, Mushollah atau masjidnya Nabi Muhammad?itu gabung sama tempat tidurnya orang -orang yang itu nawisma.
Namanya Sufah.
Orang -orang yang Tunawisma itu disebutnya Ahlus Sufah.Orang -orang yang tidur di sampingnya Masjid Nabi Muhammad.Jadi, masjidnya itu betul -betul jadi pusat peradaban, Dit.Bukan cuma pusat ibadah.Bukan cuma tempat sholat.Tapi juga semua peradaban.
Termasuk peradaban politik itu dibangun dari sana.Peradaban ekonomi.Kemudian peradaban literasi.
Di sana.
Karena ayat pertama kan mengajak kita membaca.Jadi, Musyola lu...
Ideal banget sih.Iya, tapi itu nggak sengaja sih.
Nggak sih.Cuman kan yang lebih penting dari...Bangunan Musholla adalah orang yang membangun hati dan pikirannya untuk pergi ke Musholla ya?Betul.
Betul.Apa kabar, Hamid?Baik ya?Baik ya?
"99% accuracy and it switches languages, even though you choose one before you transcribe. Upload β Transcribe β Download and repeat!"
β Ruben, Netherlands
Want to transcribe your own content?
Get started freeKamu baik.
Oke, tapi bingung di bandara kan, itu habis lewat...Apa?Security.X -ray.X -ray.Anda masuk tuh.
Gue masuk tuh ngeliat Radit, gue kayak...Gimana?Karena treatment gue kan, yaudah gue pengen memberikan kesan yang pertama, khususnya yang terbaik.
Karena gue tuh diajarin sama guru gue, yang lebih penting dari pesan yang baik, itu adalah kesan yang baik.Betul.Tapi anehnya, di industri kita sekarang, sebagai orang yang sering di sosmed ya.Anda kan sering di sosmed, saya juga sering di sosmed.Kita tuh sering ngeliat konten satu sama lain.Either lewat, either nonton.
Menjadi seakan -akan, kita sudah lebih dulu berkenalan.Padahal kan belum.Nah itu kan, itu sering terjadi tuh gue tuh.Gue misalnya sama Chef Arnold gitu.Belum pernah salaman, belum pernah kenalan, belum bilang Radit, Arnold, belum pernah.Tapi kita mungkin sering liat satu sama lain lewat.
Sehingga pas gue lagi nunggu mobil, ada dia di sebelah kita lagi nunggu.Kita ngobrol kayak udah kenal lama.Gimana?Lagi nunggu.Padahal kita belum pernah japat tangan.Dan gue ngeliatnya kan itu bisa sedu silaturahmi ya?
Iya kalau ada sedu sains gitu, sains yang seolah -olah sains.
Ini seolah -olah silaturahmi.Ada positifnya yang jauh jadi dekat.Tapi ada anomalinya, yang dekat bisa jadi jadi jauh, sehingga menjadi aneh kalau yang jauh bisa dekat sama lu.Tapi orang yang dekat aja jadi jauh sama lu karena media sosial, karena lu di kafe main HP sendiri gitu.
Sehingga bisa jadi...
Kayaknya bukan yang jauh jadi dekat deh, itu cuman bayangan lu aja.
Oke.Ngerti -ngerti.Artinya ironinya disitu.Ironinya disitu.Lo bisa aja jadi deket sama orang yang lo belum pernah ketemu, tapi sama yang ketemu bisa jadi jauh.Bisa jadi jauh.
Dan aneh kan kalau lo mengklaim, gue bisa deket nih sama yang jauh.Padahal yang udah jelas deket aja di depan mata lo, justru menjauh dari diri lo karena media sosial gitu.Sebagai seorang Habib Jafar.
Gimana merawatnya?Gimana merawat silaturahmi itu?Supaya yang dekat tidak jadi jauh hanya karena internet atau sosial media.
Iya, gua sangat fokus di situ.Bahwa kita tuh sekarang hidup di ruang imajinasi yang dibentuk oleh ruang digital kita.Sehingga kita merasa bukan hanya mengenal.Tapi memahami dan bisa ngejudge orang lain hanya modal dari pengetahuan kita di media sosial tentang orang lain itu kan.Dan kita merasa itu valid.Dan itu yang bahaya, menurut gue.
Karena itu perlu jejaring silaturahmi, agar kemudian dugaan -dugaan kita itu bisa dikonfirmasi.Iya, perasaan ga perasaan itu bisa dikonfirmasi kepada orang lain.Makanya, gue tidak sedikit ketemu dengan teman -teman yang kalau ketemu langsung tuh baik -baik aja, Dit.Tapi kalau di grup WhatsApp, kelakuannya kaya gitu.Kayak orang yang beda aja di grup WhatsApp.
Nggak ngerti.Jadi maksudnya anda tuh temenan di dunia nyata.Di dunia nyata, iya.
Di dunia nyata kita kalau ngobrol tuh asyik.
Tapi di WhatsApp tuh maksudnya apa?
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeKalau di grup WhatsApp dia, wah nyebar host, nyebar kebencian, ngomongin politik.Yang dia tuh ngerasa kayak...Ini safe house gue kalau di sini, yaudah gue bisa seenaknya.Karena dia tidak membayangkan reaksi dari orang lain.Kalau bertemu begini kan dia bisa membayangkan ya reaksinya seperti apa.Dan itu nyata, tidak imajiner.
Nah kalau imajiner itu kalau orang masih belum teredukasi dengan baik dengan dunia digital, itu rawannya merasa yaudah dengan anonim gue aman.Dengan second account gue aman.Bahkan dengan diri gue di media sosial, gue bisa melakukan sesuatu.
Bisa ngomong apa aja, karena kita ga pernah liat mukanya ya.Muka lawan.Betul.Tapi yang dia sebenernya, teman anda itu yang mana?Dia yang di grup WA atau dia yang ketemu anda?
Menurut gua...Gue menilainya tidak pada platformnya, tapi pada orangnya.Kalau lu jujur sama gue di depan gue secara langsung, maupun di media digital, bagi gue adalah teman.Dan banyak orang -orang yang akhirnya gue berteman terlebih dahulu di media digital, sebelum akhirnya bertemu langsung di offline kan.
Tapi ada nggak yang kebalikan nih?Ada orang yang berpura -sangka beda sama anda, akhirnya ketemu anda langsung, dan akhirnya mengkonfirmasi bahwa itu tidak benar.Oh banyak.Biasanya apa?Apa yang orang gosipkan soal Habib Jafar yang divalidasi ke anda?Itu yang ketemu.
Pandangan -pandangan keagamaan tentunya.Karena pandangan keagamaan yang dianggap berbeda dengan dia, itu seolah -olah membentuk persepsi bahwa, ini emang orangnya tengil nih.ini emang orangnya so -soan nih, dan lain sebagainya.Jadi ketika ketemu itu tidak terkonfirmasi, malah terklarifikasi.Sehingga banyak momen dengan banyak orang, gue ketemu orang, tiba -tiba dia minta maaf aja gitu.Pertemuan pertamanya adalah minta maaf.
Karena telah berpersangkah?Gue gak lanjutin sih, tapi gue duga itu cara gue untuk menjaga treatment baik kepada orang lain adalah yaudah gak usah nanya, karena kalau nanya mungkin gue juga akan punya perasaan yang kurang enak.Menurut gue salah satu bagusnya tradisi Halal bihalal di Indonesia itu di luar negeri gak ada.Jadi halal bihalal itu tradisi baiknya salah satunya adalah kita bisa minta maaf kepada orang lain tanpa malu karena berbarengan dan tanpa ngucapin apa kesalahan kita.Halal bihalal.Di Arab ada gak tapi?
Gak ada.Gak ada.
Oh iya?
Gak ada.Jadi ketika di Indonesia halal bihalal, itu kan gue ketemu lu.Dit, sorry ya.Lu kan gak kira mengkonfirmasi.Lah emang salah lu apa?Ya ini untuk saling memaafkan aja.
Karena kalau konfirmasi bisa jadi, maaf gue gak diterima sama lu.Sakit hati?Iya.
Dit, sorry ya.
Kemarin gue begini lagi sama lu.Hah?
Ternyata lu gitu.Jadi pecah dong.Oke, paham.Menjadi Habib Jafar dengan semua konten -konten dakwah yang ada di sosmed, Berat juga nggak sih untuk bisa tetap konsisten sebagai diri anda yang anda perlihatkan?Kadang suka ada momen -momen dimana, kayaknya di sini gue nggak boleh marah, ketim misalnya.Kayaknya di sini gue harus gini.
Itu menjadi beban tersendiri atau justru nggak?
Jadi itu salah satu beban terbesar gue.Dan salah satu momen nangis pertama gue di platform digital.
Oh pernah curhat gitu maksudnya?Nggak, jadi waktu itu Yura Yunita,
ngajakin gue terlibat di video promo lagu barunya dia, judulnya Tanda.Kemudian kata Yura, di studionya Om Dede tuh, dimasukin ke studionya Om Dede, kemudian di dengerin lagu gue, terus gue pengen tau aja ekspresi lo apa.Rasa yang lo rasakan apa, dan lain sebagainya.Udah gue dengerin tuh, wah nangis tuh.Kemudian gue cerita, emang apa yang dirasakan lu?Yang gue rasakan adalah, gue khawatir dengan apa yang dalam Islam disebutnya istidroj.
"Cockatoo has made my life as a documentary video producer much easier because I no longer have to transcribe interviews by hand."
β Peter, Los Angeles, United States
Want to transcribe your own content?
Get started freeIstidroj itu, lu jahat, padahal Tuhan udah berikan kebaikan, dan kebaikan itu lu manipulasi untuk justru kejahatan kepada orang lain, dan akhirnya Tuhan tegur berkali -kali lu masih begitu, dan akhirnya Tuhan biarkan lu.Jadi lu gak ditegur lagi, lu merasa, wah gue dapet nikmat nih, gue disayang Tuhan nih.Gue takut itu.Jadi, di awal, Gua niat masuk Youtube.By the way, gua thank you sama lu dan Gita Shaf, karena salah satu inspirasi gua masuk Youtube.
Serius.
Gua nonton lu dari Malam Minggu Miku, dari zaman lu stand up pertama kali di cafe, kemudian gua nonton juga konten lu yang dulu ngevlog -in proses lu full shooting.Dari hari pertama, hari kedua, dan lain sebagainya.Gua nontonin semua itu.Dan yang kedua adalah Gita Shafitri.
Yang konten beropini dan jalan -jalannya dia.
Itu menurut gue salah satu trigger besar ke gue untuk akhirnya gue jeda menulis.Makanya YouTube gue namanya Jedanulis.Jedanulis untuk kemudian menyampaikan apa yang gue tulis di YouTube.
Oke.Artinya ketika dikasih privilege untuk bisa besar di YouTube dan dengerin banyak orang takutnya jadi kayak tadi.
Iya niat awalnya tentu berdakwah.Bahkan salah satu komitmen dakwahnyaadalah YouTube gue sampai sekarang dari 2018 tanpa pernah diakses.Karena bokap tuh bilang dakwah tuh seharusnya ngasih sesuatu kepada orang, bukan menerima.Dan yang kedua karena Pandangan -pandangan keislaman yang gue sampaikan, sebagian berbeda dengan mayoritas orang.Gue khawatir, wah sengaja nih cari kontroversi.
Biar view -nya gede, engagement -nya tinggi, akhirnya access -nya gede juga.Gue ingin menetralisir itu.Nah, akhirnya udah.Jadi kemudian popularitasnya menjadi, menurut gue ya, sangat cepat, bahkan terlampau cepat bagi gue.Gue tidak memiliki kesiapan mental untuk itu.Sehingga kemudian ada mental issue di dalamnya.
Oh iya?Pernah terjadi?Pernah terjadi.Mental issue -nya, wah.
Mental issue ini maksudnya gimana?Jadi sedih?Atau justru jadi berlebihan?Oh jadi stres.
Jadi stres.Karena...Gue gak pernah mengidentifikasi diri gue apakah introvert atau extrovert atau apapun.Tapi yang jelas, gue tidak bisa se -perform konten kreator -konten kreator yang ada.Walaupun gue selalu menutupi itu.Nah itulah masalahnya.
Psikolog gue bilang itu masalahnya.Jadi front end dan back endnya... terlampau berjarak.
Bahwa artinya anda orangnya agak lebih reklusif misalnya, agak lebih narik diri.Tapi industri ini mengharuskan anda tampil.
Betul.Apalagi setelah menjadi habib industri.
Kemana -mana, Din.Abis itu.
Gue kemana -mana.YouTube.Akhirnya gue ke TV.TV juga berbagai kan.Talkshow, gue main kuis.
Ini film, Seni Merayu Tuhan 13 Agustus nih.
Ini untuk pertama kalinya film, Seni Merayu Tuhan.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeArtinya apa?Ada dilema itu?Ada ke -mispatch itu?
Gue sering bertanya ke diri gue, eh ini masih dakwah atau gue udah menikmati privilege itu?Baik itu komersialisasi, industrialisasi dan lain sebagainya.Itu yang terus bergejolak di diri gue.ditanya.Solusinya gue melakukan berbagai upaya untuk itu.Salah satunya adalah menjaga kehadiran gue di titik -titik yang menurut gue titik pertama gue bertumbuh, kemudian titik utama dalam dakwah.
Misalnya ke kampung -kampung, ke kampus -kampus.Tetap gue maksa diri gue untuk tetap harus hadir ke tempat -tempat yang menurut gue Secara mungkin ya, secara engagement nggak strategis nih.Lebih baik gue bikin konten aja di rumah, penonton lebih besar, nilai daonya lebih gede.Tapi kehadiran itu menurut gue untuk menjaga kerendahan hati gue, menjaga relasi nyata gue, ketemu dengan banyak orang, orang foto -foto dan lain sebagainya.Itu gue lakuin tuh, paksain untuk tetap hadir di mana -mana.
Paham sih.Pasti dilema itu menjadi lumayan dalam ketika harus bikin red card ya?Pasti.
Itu momen bikin red car itu lucu juga kali ya?
Betul.Gue satu video segini gitu.Aneh ya waktu itu ya?Aneh.Pasti aneh ya waktu itu ya?Pasti.
Meeting sama Brer.
Iya dan prosesnya itu cukup panjang bertahun -tahun lah.Akhirnya gue berdamai dengan bahwa gue harus punya red car.Gue harus membedakan mana gue harus punya red card, mana gue nggak boleh punya red card.Atau mana gue harus justru ngasih ke orang lain.Dan salah satunya juga gue adalah kemana -mana, naik motor.
Ya udah dengan naik motor, gue menikmati podcast dengan diri gue sendiri.Maksudnya apa tuh menikmati podcast?
Iya ketika gue naik motor tuh kayak ngobrol aja sama diri gue sendiri.Kayak di kamar mandi mungkin bagi sebagian orang.
Naik motor di kamar mandi?
Enggak.
Iya -iya paham.Ada orangnya di kamar mandi kan?Iya ada orangnya di kamar mandi.
Karena gue juga nggak bisa...Se -esklusif di Musola seperti anak -anak kantor lu.Untuk merendung di Musola.Ini Panji ada ya.Ya udah, di motor.Kemudian dengan motor gue bisa ngeliat semuanya lebih utuh, bisa berhubungan dengan orang.
Kadang di lampu merah, gue pernah dimintain foto di lampu merah di atas motor.Ayo, mari.Ada orang yang datang, anak kecil disuruh ibunya.Jadi yaudah, dengan motor itu menurut gue, ya menjagalah.Menjaga gue untuk tetap membumi aja.Tetap dengan apa yang dari awal bahkan bukan diniatkan cuman oleh gue, tapi oleh ayah gue.
Mewakafkan umur untuk kemanfaatan lah.Tapi pernah nggak di antara semua perjalanan ini, sempat ngerasa menjadi orang yang asing gitu?Kayaknya gue gak gini deh, kayaknya Habib Jafar tuh gak seharusnya gini deh.Dan sempet ngerasa itu, dan akhirnya balik lagi jadi bener.Pernah?
Beberapa kali, dan itu biasanya kaitannya dengan meeting -meeting sama aspek industri gue.Misalnya brand tuh minta ini.Enggak, gue gak gitu.
Oh disuruh ngomong sesuatu yang tidak diakini?
"Your service and product truly is the best and best value I have found after hours of searching."
β Adrian, Johannesburg, South Africa
Want to transcribe your own content?
Get started freeBetul.Atau disuruh melakukan sesuatu yang menurut gue, enggak sih.Salah satunya yang akhirnya...Gue bukan kalah, tapi ngalah dan berdamai dengan ini.Gue tuh dulu gak mau setelah acara gue misalnya di kampus atau dimana gitu, foto di...peserta.
Oh maksudnya selfie yang semuanya ada gitu di belakang.Gak mau dulu?
Gue dulu gak mau.Karena bagi gue, mereka itu bukan buih loh.Mereka itu orang loh.Buih -buih tuh?Iya buih -buih kayak air itu.Bukan.
Mereka itu manusia -manusia yang punya eksistensi.Jangan lu jadikan background gitu.Tapi sekarang kan udah lah.
Tapi itu bisa dimengerti sih, karena...Intensi kita juga tidak pernah menjadikan mereka background anyway, kan?Sebenarnya...Intensinya kan adalah merayakan kebersamaan kita bersama, gitu kan?Ya, cara...Anglenya, kan?
Anglenya, secara kognitif akhirnya digeser, kan?Anglenya, kan?Ya, dan...Dan secara niat, ya?
Niat, ya.Intensi.
Iya, intensinya, kan?Digeser.Ya, pada akhirnya ya begitu.Tapi awal -awal kan, gue ngerasa...Bukan tipikal gue yang begitu.Jadi mending yaudah turun aja salaman.
Karena itu sering tuh...Komunikasi sama pihak -pihak panitia.Gua mau turun.Habib gak boleh turun.Gua mau turun.Habib gak boleh turun.
Grapewall tuh?Enggak.
Malah lebih dosa itu.
Gua kesini cuman jeda aja.Ini masih gua sampe sekarang ngobrol.Habib gak boleh turun.
Gua mau turun.Ada komedinya.Maaf, maaf, maaf.
Gak nangkep tadi tuh.Jadi itu sering tuh gitu.Salah satunya di beberapa momen misalnya gue lagi cerama, hujan dres.Kemudian audiensnya kehujanan.Gue aja gak kehujanan.Nah gue tuh, enggak deh, gue mau kehujanan juga.
Iya, yaudahlah.Tapi make -nya gimana?Yaudah selesai, selesai acara.Biasanya gue foto -foto sambil hujan -hujanan bareng, gitu -gitulah.Itu yang gue coba treatment -treatment itu untuk kemudian gue harus tetap hadir di mereka.agar mereka merasa dekat dengan gue.
Dan gue harus...apa yang dirasakan oleh mereka, agar dakwa gue menjadi relate dengan mereka.Omongan gue itu tidak omong kosong.Paham, paham, paham.
Kepada uang gitu juga kak.Pasti kan dengan makin di industri, makin banyak populitas kan.Uang pasti kan ada gitu, dan dapat banyak.Namun nyikapinya dilematis juga.Tiba -tiba, kok segini?
Pernah dong berarti kan?Sangat.Karena gue...Gue ini lahir dari seorang ayah yang seumur hidupnya mengabdikan dirinya kepada satu lembaga pendidikan dakwah sosial budaya.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeGak digaji.
Kemudian kecenderungannya men -treatment punya sentimen negatif terhadap orang yang kaya.Karena kita, ya kemiskinan struktural itu kan secara mental bisa membawa kita pada mentalitas yang Emang bisa ya sekaya itu ya gitu.Memandang dengan kecurigaan.Memandang dengan kecurigaan.Nah akhirnya, gue tumbuh dalam lingkungan yang seperti itu.Dan ketika gue akhirnya mendapatkan kesempatan untuk pegang duit yang lumayan.
Ya secara mentalitas gak siap dong.Dan gue tidak pernah disiapkan untuk itu.Gue tidak pernah dididik oleh ayah dan ibu gue untuk berbisnis.Jadi kita empat bersaudara, semuanya itu dakwah.Dan semuanya full agama.Dari TK sampe S2 gua agama.
Semua juga saudara begitu.Jadi gak pernah diajarin bisnis.Makanya sampe sekarang sebenernya gak pernah berbisnis.Cuman ya jadi content creator aja.Gak pernah yang kemudian nge -create bisnis.
Dipikirin?Enggak lah gitu ya.Bersrategi?Enggak ya.
Bersrategi?Enggak juga.Yaudah apa adanya aja gitu.Terus bagi gua, financial freedom juga kayaknya itu AI deh.Kayaknya nggak ada apa itu financial freedom.Nggak mungkin ya?
Kayaknya udah tidak teredukasi.tidak teredukasi literasi finansialnya.Jadi ketika pegang duit bingung.Bahkan ada perasaan, dosa nih.
Kayak ada perasaan tidak seharusnya gue pegang duit ini.Artinya duitnya itu segitu banyaknya sampe merasa nih kayaknya dosa deh gitu ya?Iya, gue ngerasa tidak layak gitu.
Apalagi dibandingkan dengan usahanya yang menurut gue ya...Kecil aja usahanya, gue ngerasa tidak melakukan sesuatu yang besar itu.
Ya, seolah hanya ngomong doang ke kamera, kok dapatnya segini, gitu kan.Betul, ada mentalitas itulah, mentalitasnya.
Dan akhirnya...Caranya adalah mengaktifasi aksi filantropi.
Dibudgetin nggak aksi filantropi?Misalnya sekitar setengahnya deh buat filantropi atau nggak?Enggak.
Pokoknya gue pengen apa, menurut gue ada orang yang butuh, gue ngerasa enak dan lain sebagainya.Salah satunya...Di aksi filantropinya itu mental.Gua bikin klinik sehat mental gratis.
Tapi ini kan ngomongin masa lalu lah ya.Masih inget nggak?Dulu nih, dulu ketika akhirnya punya uang gitu kan.Untuk pertama kalinya, sebanyak itu maksudnya.Pembelian paling besarnya masih inget nggak sih?Apa?
Boleh silahkan.Ini zam -zam ya?Pembelian terbesar apa?Masih inget nggak?
Pembelian terbesar...Kayaknya mobil.Tapi untuk orang tua.Pertama kali beli mobil untuk orang tua.Kemudian pembelian terbesarnya mungkin di waktu yang relatif sama dengan umroh ya.
Kita kan baru aja tadi sebelum Anda datang saya nonton trailer filmnya nih.Seni Merayu Tuhan.Ini kan tayang tanggal 13 Agustus ya.13 Agustus kan bentar lagi.Menarik banget ya.Jadi ini adalah film dari Esai justru.
ya?Dari kumpulan Esai.
"The accuracy (including various accents, including strong accents) and unlimited transcripts is what makes my heart sing."
β Donni, Queensland, Australia
Want to transcribe your own content?
Get started freeDari seorang yang nyaris tidak pernah membaca novel seumur hidupnya.Oh iya?Gue nggak pernah baca novel.Novel fiksi kan?Novel fiksi.
Oh wow.Gue nggak pernah sih.Novel fiksi sejarah pun juga nggak?Kan ada sejarah yang suka difiksikan, dijadikan cerita.
Nggak.Kalau yang kisah nyata dan dia langsung ke...Atau agama, atau filsafat, minat gua, atau psikologi.Ada misalnya message meaning.Itu kan separuh cerita, separuh kemudian teori logoterapi di psikologi.Itu baca.
Tapi kalau yang secara umum udah baca novel gitu untuk... menikmati, menumbuhkan imajinasi, enggak sih.
Enggak itu karena memang bukan seleranya, atau merasa kayaknya lebih banyak waktu lain yang lebih bermanfaat deh, misalnya baca nonfiksi, gitu.Oh gitu?
Kayaknya gue lebih worth it untuk ngabisin waktu baca buku gue dengan baca buku -buku...
Non -fiksi?Iya, agama dan lain sebagainya.
Gue ngerasa itu bukan prioritas gue.Pada saat itu?Iya.
Sampai sekarang...Oh, sampai sekarang bahkan juga gak baca fiksi?
Sampai sekarang gak baca fiksi.Semua novel -novel yang akhirnya gue sukai, ya karena gue mengenalnya lewat filmnya.Misalnya, Buya Hamka.Gue mengenal semua cerita -cerita beliau ya dari nonton film -filmnya, kemudian Laskar Pelangi dan lain sebagainya.Kebak di Lestari, itu karena nonton filmnya bukan karena baca bukunya.
Nggak pernah penasaran, oh filmnya kayak gini, bukunya kayak apa, nggak lah ya?
Nggak.
Pernah nyoba dan ngantuk mungkin?Baca 2 halaman, kayak apa sih gitu?Iya.Oh pernah?
Iya, kayak...
Kenapa kita buang -buang waktu untuk ini?Ya maksudnya bukan prioritas gue ya?
bukan selera gue.
Preferensi.Iya.Preferensi anda bukan fiksi.Betul.
Itu hanya komedi ya.Kuatirnya novelis, ngerasa karya seler ya.Nggak perlu uang -uang waktu.Ini nggak apa -apa juga bilang buku saya, ngapain baca buku ini.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeTerserah lah.Tapi ya, tapi ada juga sebaliknya.Ada juga sebaliknya orang yang emang nggak bisa baca non fiksi, karena ngerasa bahwa Kayaknya gue gak perlu dihajarin, ada yang kayak gitu.Ada yang kayak, oh gue mendingan nonton podcast atau nonton orang ngejelasin di video, malah sukanya fiksi.Itu preferensi aja.
Sebenernya kalau dibilang gak suka fiksi, enggak.Cuma platform gue menikmati fiksinya adalah melalui film kan berarti.
Tidak melalui buku.
Audio book pernah nyoba gak?Audio book enggak.Gue gak pernah nyoba.Even Harry Potter aja yang gue suka banget.By the way gue punya jubahnya, gue punya...Apa, tongkatnya.
Itu kan penyihir, gak apa -apa tuh penyihir.
Iya, habib penyihir gak ketahui lucu sih.Ya kan, menyihir orang untuk dapat hidayah, Dit.Betul -betul -betul -betul.Iya kan?
Betul -betul -betul.
Menyihir orang.Habib industri, ya begitu lah ya.Haru pintar -pintar nyapuin.
Tapi suka Harry Potter?Suka Harry Potter.Pernah ikut berantem aslinya gak?Kan suka ada komunitasnya yang pake jubah Harry Potter.Main.
Homelife.Habib wibu agak jauh sih.Habib wibu agak jauh, Dit.Kejauhan -kejauhan.Iya.Gue pernah di...
Aion lagu, disana lagi ada acaranya Wibu.Kayaknya gue, ini apa ini?
Ribuan orang.Kayak cosplay kan maksudnya?Iya cosplay.Padahal ya gue suka Dragon Ball, suka semua lah.Tapi kalo sampe ke cosplay kayaknya enggak lah ya?
Cosplay enggak, tapi suka ngoleksi.Harry Potter kayaknya semuanya gue ngoleksi.Kecuali Coppernya, karena terlalu gede waktu itu dibawa dari Amerika.Jadi gue pernahdi New York karena satu pertemuan lintas agama gitu dan ngajar beberapa isu.dalam perspektif Islam di beberapa kampus, itu apartemennya pas di depan Harry Potter Store.
Wih, kata gua.Udah, gua selama satu minggu jalan -jalannya cuma ke Harry Potter Store.Setiap hari, bahkan sehari kadang beberapa kali.Pasti ada yang kayak cuma ngeliat, kayaknya nggak deh.
Tapi kepikiran dateng lagi gitu kan.Akhirnya beli semuanya lah di sana.Paling absurd apa juga berarti?
Gua...Kayaknya iya, jubah.Karena jubah itu kan mau dipajang juga.Repot ya.Kalau tongkatnya gue taruh di kantor.Jubah itu gue punya dua.
Jubah Harry Potter sama Dokter String.Karena gue suka Dokter String.
Karena jubahnya kan kayak hidup sendiri kan?Dia karakter sendiri kan jubahnya kan?
"I'd definitely pay more for this as your audio transcription is miles ahead of the rest."
β Dave, Leeds, United Kingdom
Want to transcribe your own content?
Get started freeIya, dan berat banget.Oh iya?Jubahnya berat banget dan mahal banget.Oh, jubahnya doang?Jubahnya doang.Makanya?
Agak aneh ya.Gue ketika dawah ga pake jubah.Di tengah -tengah habib pake jubah ya.Tapi malah beli jubah dokter string.Kan hobi.Pernah ga diem -diem dirumah?
Ga ada orang.Pake jubah dokter string.
Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.
Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.
Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.
Ga kaya gini sih.Ga kaya gini sih.
Ga kaya gini sih.
Jadi kalo berat jadi kayak gini -gini gitu.Ketarik aja.
Maksudnya ga usah ambil gini?Gini doang sih.Saya di umur sekarang pun kalo abis main game juga masih suka imajinasi terus praktekin di dapur.Oh gitu.Ketika orang ga liat.Dan akhirnya ketauan sama Anissa waktu itu.
Diceritain kemana -mana sama dia.Oke, ini kita omongin filmnya ya.Berarti awalnya dari buku.Bukunya ini Esai.Bukunya Esai.Awalnya malah konten.
Konten video maksudnya?
Konten video, konten -konten pendek, spesial Ramadhan waktu itu.Kemudian tentu karena basic gue adalah penulis, gue dari tulisan jadi konten.Kemudian dari konten itu kemudian jadi tulisan dalam bentuk buku.Kemudian dari buku ini kemudian diadaptasi oleh Wahana Kreator Nusantara menjadi film.
Proses dengan wahana kreator ini gimana nih?Ada di pertemuan seperti apa?Ditawarin kayak gimana?
Sebenernya ditawarin dari buku atau dari IP yang gue punya di Youtube untuk jadi film itu udah beberapa kali.Oleh beberapa pihak.Cuman akhirnya gue ngerasa, ah nggak deh dulu kayaknya...Trustnya belum, minatnya belum, kemudian semuanya.Walaupun belum penjajakan ya, belum ada feel untuk, iya nih gitu.Artinya anda ngeliat PH -nya atau dari hati kayaknya bukunya belum sate?
Dua, dua hal ya.Dari PH -nya dan kemudian dari guanya kadang.Lalu?Nah ketika ketemu Wahana, tiba -tiba ngerasa kayaknya gue percaya deh sama Wahana.Utamanya karena Mas Salman.
Mas Haris.
Iya Mas Haris, karena gue kenal dulu di Mizan, di Pearl Point.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeItu gua satu kantor.
Gua dulu kerja sebagai pemerintahnya Mizan di digital.Bukan, di digital.Platform digitalnya.Nah, itu satu kantor dengan Blokpoint.Blokpoint kan di Kemang kan ya, Mas Arief?Di Cipete.
Itu satu kantor kita.Gua di Mizan Digital Publishing, MDP.Akhirnya karena gua punya trust, kemudian ngeliat profil wahana kreatif.Nusantara dan lain sebagainya.Yaudah kita meeting, kemudian kita...Di meeting itu juga Wahana memberikan semacam garansi dan kepercayaan ke gue bahwa lu maunya apa kita akan akomodir.
Apapun mau lu gitu.Karena kan tetap ada gap ya antara gue dan Wahana.Karena gue punya background dakwah.Wahana kayaknya film -filmnya tidak di sana.Maka kemudian salah satu PR terbesarnya gimana nih cari titik temunya?Nggak mungkin dong kita bikin film religi.
Wahana bikin film religi kayaknya terlalu jauh sih.Akhirnya kita bikin yaudah filmnya coming of age aja.proses pendewasaan.
Tapi kan cerita narasinya itu kan tidak ada di dalam buku kumpulan esanya dong?
Tidak ada.Yang banyak kepake dari bukunya pertama tentu adalah judulnya karena menurut Wahana bagus banget.
Seni Merayu Tuhan.
Kemudian yang kedua adalah kode -kode di dalamnya.Dan yang ketiga adalah value -nya.Karena kan value bukunya adalah ngajak orang untuk menjadi dewasa secara spiritual.Ini bukan religi.Karena pesannya lebih universal.Oke.
Dari religiositas semata.Bahkan salah satu konfliknya adalah cinta beda agama di dalamnya.
Di filmnya.Mengajak orang lebih dewasa secara spiritual?Enggak.Oh enggak?Bukunya kan?Oh iya kalau bukunya iya.
Kalau filmnya itu lebih dibuat universal lagi.
Oh oke.
Jadi ada pendewasaan dalam relasi keluarga antara anak dan ibu.Oke.Kemudian persahabatan.Kemudian percintaan beda server.
Tembok yang terlalu tinggi.
Tembok yang terlalu tinggi, patah hati yang dipersiapkan ya.Karena jangankan memang...ya, gue beda volume AC agak berat sih.
Gimana kalau beda server ya?
Bidik gue kan senang dingin, gue senang hangat.Jadi pas dia bangun, gue naikin AC -nya.
"99% accuracy and it switches languages, even though you choose one before you transcribe. Upload β Transcribe β Download and repeat!"
β Ruben, Netherlands
Want to transcribe your own content?
Get started freeItu baru masalah AC.
Iya, apalagi yang lain kan.Kemudian ada banyak value -value yang kita masukkan dan amazing, Wahana bisa menyelesaikan itu menjadi satu cerita yang utuh.Dan ketika gue nonton pertama kali.Nonton tuh maksudnya di editing?Di editing.Masih di TV.
Kecil masih.Sampai sekarang gue juga belum nonton yang versi di bioskopnya.Itu aja gue udah ada banyak rasa yang anomali di diri gue.
Draft berapa yang ditonton?Bukan draft satu tapi.Bukan draft 1 ya?Nonton draft 1 anda stres sih.Oh iya.
Semua orang kalau nonton draft 1 kayak, ini apa ya?Yang jelas sih masih ada di lingkarin, itu ada jerawat, tolong diedit.
Masih mau ke CG ya.
Tapi gue nonton kayak...Kayak apa ya, kayak film ini, gue ngerasa gak akan relate dengan gue.Karena kan utamanya isunya isu -isu Gen Z. Tapi ternyata akhirnya, wah ini bisa relate dengan semua orang.Bahkan gue yang sebenarnya agak jauh dari apa yang terjadi di film ini.Ternyata relate banget.Bagian relasi dengan orang tua.
Kalau menurut anda itu?
Iya, kalau menurut gue itu.Dan bawaan emosinya adalah marah akhirnya.Bawaan emosi sebagai penonton atau?Enggak, bawaan emosi yang ketrigger di diri gue.Gue marah karena, gila ya gue juga terjebak di relasi yang seperti itu.Maksudnya gue tumbuh kecil dengan janji bahwa, wah gue mau hadir buat orang tua gue ternyata.
tidak membuat hidup sesimpel itu.Sehingga semuanya menjadi sangat rumit.Tidak ada yang salah.Cuman ada banyak yang kalah.Kalah dengan keadaan -keadaan itu dan akhirnya harus memilih begini dan begitu.Nah rasa itu yang sebenarnya kalau dari gue sebagai penulis bukunya, ingin ditransfer ke orang lain.
Gue ingin orang merasakan dan akhirnya merenungkan, Bahwa hidup tuh gak bisa lu jalani apa adanya aja gitu.Gak bisa, yaudah yuk jalani.Termasuk relasi beda server tadi dan lain sebagainya.Memang harus dipikirkan.Memang harus dipikirkan.Dan pada akhirnya, kemarin gue atur sendiri hidupnya dan berantakan.
Maka kali ini gue ingin mengatur hidup gue dengan mengajak Tuhan untuk jalan bersama dalam setiap langkah di hidup gue.Karena itu ini seni merayu Tuhan untuk...Gue mulai menjadikan semua langkah gue di hidup ini, ter -upgrade.Tidak lagi sendiri, tapi bersama Tuhan.Sholatnya tidak lagi sholat yang sekedar rutinitas, tapi sholat untuk merayu Tuhan agar Tuhan hadir.Karena di sholat itu salah satu yang utama adalah, Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mawati lillahi robbil alami.
Sholatku, ibadahku, hidupku, matiku untukmu Tuhan.Jadi...Tolong temani aku.Jangan istirahat tadi.
Tuhan temani aku gitu.Oh jadi definisi frase merayu Tuhan itu adalah mengajak, merayu, menghadirkan, atau apa tuh?Menghadirkan Tuhan ke dalam hal -hal yang kita lakuin.
Iya, jadi relasi kita dengan Tuhan tidak relasi beban, bahwa sholat itu beban.Tidak relasi rutinitas, bahwa sholat itu rutinitas.Maling kita upgrade, akhir kemudian Tuhan hadir dalam hidup kita.dan kemudian menemani kita dalam semua aspek kehidupan kita.Dan ini bukan perspektif agama tertentu, bahkan bukan perspektif religiusitas, tapi spiritualitas sudah.Sesuatu yang jauh lebih luas.
Artinya ibadah itu bukan jadi rutinitas, tapi ibadah itu menjadi sesuatu yang Tuhannya ada disitu.
Betul.
Kan kadang kebanyakan orang mungkin Ya ada aja orang ibadah yang lupa memasukkan aspek ke Tuhan di dalamnya, dan melakukan ibadah hanya sebagai ya ibadah, wajiban, rutinitas aja gitu ya kira -kira.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeIya, betul banget.Sesimpel, pasangan kita kan sebenarnya bukan utamanya butuh bunga atau I love you dari kita kan.Tapi kehadiran kitanya, bukan kehadiran bunganya, dan kehadiran diri ini ketika menyampaikan I love you itu dengan hatinya kan.Tapi kan sering kali I love you itu udah jadi Itu rutinitas, rutinitas lagi tuh.Bahkan lu pernah ngerasain gak bahwa kita sebagai penulis, gue dulu tuh sebagai penulis kan suka banget kalau lebaran tuh bikin ucapan selamat lebaran yang puitis.Di bawah kan Husein Jafar dan keluarga.
Besoknya itu ucapan balik ke gue.Dengan nama orang lain di bawahnya.Oh di copy paste.Itu pun salah kadang kan.Ada beberapa part yang salah.Atau orang lebaran tuh minalai di nolva izinnya pake stiker gitu.
Menurut gue kan kayak gak ada ketulusan dalam relasi ini.Kayak..
Ya udahlah, kopas aja lah, kasih stiker aja lah.Iya, punya anda di copy paste kadang namanya masih Hussein lagi.
Iya, masih Hussein.
Lu kok sama.Tapi kalau saya melihat nih dari awal ngobrol nih, relasi manusia ke manusia tuh kayak sesuatu yang mengganggu anda banget deh.Itu kegelisahan yang hakiki ya kayaknya.Soalnya dari tadi yang dibicarakan tuh soal, kok kita jadi nggak punya rasa lagi.antara manusia ke manusia, semua hanya template, itu penting banget ya berarti.
Itu menurut gue kehadiran kita dalam setiap hal, bukan cuman dengan orang lain, dengan diri kita sendiri.Yang miss dari kita kan sekarang tuh tidak hadirnya kita, Ketika di sini tidak hadir di sini saat ini gitu.Ketika kita bertemu dengan teman tidak hadir.Ketika kita bertemu dengan Tuhan di sholat kita tidak husu dan lain sebagainya.Itu yang menurut gue miss gitu.Sehingga akhirnya ya ada yang tertinggal di masa lalu.
Yang kemudian disebutnya overthinking.Ada yang terlalu maju ke masa depan yang akhirnya anxiety, kecemasan gitu.Gak hadir di sini saat ini.dengan siapa anda berelasi dan lain sebagainya.Dan tentu itu gak mudah ya.Karena itu butuh berbagai platform, berbagai approach untuk ngajak kita bisa bertumbuh dengan ini.
Salah satunya tentu psikologis, dan gua mencoba masuk secara ideologis melalui platform film.
Ngajak, yaudah yuk coba deh.Hadir.Iya hadir.Tapi di industri ini, berarti ini menjadi semakin... meresahkan anda juga dong ketika Habib Jafar yang seperti ini sekarang dengan semua persona dan simbolismenya disamperin orang, diajak ngobrol orang ada rasa kaneh -kaneh itu gak kayak ini orang ngobrol sama gue karena gue Habib Jafar atau karena gue adalah gue?
Gue selalu waspada dengan itu.Gue selalu waspada dengan itu.
Merepotkan banget juga ya ternyata ya?Merepotkan sekali.Semua...Populeritas ini ya?
Iya, karena kalau di filsafat kan secara filosofi problem utama kita diantaranya adalah problem eksistensialis kan.Jadi iya...kita tuh sebenarnya bergulat dengan diri kita sendiri gitu.Jadi gue selalu kayak ginilah, kadang gue ngajak jujur, ada misalnya brand ya, mengundang Habib Jafar.Oke, brand mengundang Habib Jafar.Udah, asisten gue ngasih red card.
Sekini red cardnya.
Oh ada red card -red cardan ya?
Kata gue, tergantung.Kalau lu mau gue hadir sebagai pendakwah, yaudah gue punya platform nih untuk hadir sebagai pendakwah gitu.Tapi kan sebagai sebuah brand, lu menghadirkan gue bukan hanya sebagai pendakwah kan, ada aspek komersil yang lu butuhkan dari diri gue.Jadi yang lu apresiasi, secara retkat itu adalah aspek industri nya, bukan aspek Habib nya.Rumit kan jadinya, Habib industri kemudian bergumul terus dalam setiap langkahnya kan.
Ya tapi kan anda hanya mencari keadilan buat diri anda kan?Iya.Maksudnya ini yang adil buat anda, menurut anda itu dong?Iya dong.Iya kan?
Iya, yang adil bukan hanya dengan diri gue, tapi dengan visi yang gue punya kan?Iya.Gue punya banyak visi yang sedang gue perjuangkan kan?Nah karena itu ya caranya kemudian ya mungkin lebih rumit dari Artis ya, karena seorang habib ya.Artinya soal menentukan reka dan lain sebagainya.Itu rumit sekali.
"Cockatoo has made my life as a documentary video producer much easier because I no longer have to transcribe interviews by hand."
β Peter, Los Angeles, United States
Want to transcribe your own content?
Get started freeTapi sekarang udah berdamai dengan itu semua dong?Karena udah ngerti kan?
Udah tau gitu batas -batasnya dimana kan?
Udah, iya.Dan batas -batasnya, kemudian komunikasinya udah relatif ngerti.Walaupun tetap lah, insiden -insiden ada lah ya kecil -kecil.Ya udah lah, tapi kita udah lelah lah untuk kemudian harus mengurusi sesuatu yang menurut kita tidak lagi substantif.
Kenapa Anda suka banget main sama stand up comedian?Teman -teman saya, Anda berteman semua.Kenapa?
Semua stand up comedian kayaknya sudah, kecuali Anda.Sudah apa?
Kita berkenalan sebelum ini.
Pertama, gue backgroundnya adalah...Arab Madura yang sangat dekat dengan komedi.Oke.Kemudian tongkrongan gue semuanya komedi.Kemudian yang kedua, gue sangat percaya kepada komedi sebagai wadah untuk menyampaikan pesan.Oke.
Iya.
Sehingga dengan dulu tuh ada Abu Nawaz, ada Bahlul yang dengan komedi mengkritik rezim saat itu.
Karena dengan begitu kritiknya sampai, tapi rasa malu yang Membersamai kritik itu jadi hilang karena dileburkan oleh komedinya kan.Rasa malu membersaimai dengan kritik, maksudnya gimana?
Iya, kayak gue ngeritik lu.Mungkin di depan orang, orang akan ngerasa, Ihh, Habib memormalukan Radit.
Dari komedi maka itu hilang, bias itu hilang.
Tapi lu tahu, lu akan membedakan tuh, eh ini bukan hanya komedi loh, ini kayaknya kritik nih karena gue begini dan begitu.Jadi, gue suka.Dan kemudian, gue ngerasa, Politik itu punya bahasa sendiri yang tidak bisa dipengerti oleh banyak orang.Filosofat punya bahasa sendiri.Tapi kalau komedi itu bahasa yang menurut gue paling universal.Semua orang tau caranya ketawa.
Dan juga karena subjektifnya adalah karena di awal -awal gue nge -Youtube 2018 langsung kenal pertamanya dengan stand -up komedian.Coki Muslim.Karena kasus waktu itu.
Langsung kenalnya sama mereka.
Iya.Gue salah nggak sih?Salah tuh maksudnya?Perkenalan first impression dengan set up komedi melalui joki muslim.
Bisa lebih buruk, bisa panji.
Nggak lah, nggak salah lah.Tapi nggak salah juga.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeNggak salah dan nggak salah.Jadi gue pertama kenal, gue dulu awalnya di Twitter.Tapi itu juxtaposisi yang menarik loh antara Anda dan mereka berdua.Itu menjadi menarik.Menarik.
Jadi gue dulu kan di Twitter, ngasih kode -kode dakwah gitu.Nah ketika mereka kena kasus kemudian mereka ngomongin, netizen bilang, sama Hamid Jafar aja, dia punya pandangan yang moderat gitu.Lu dengan segala kenakalannya dan lain sebagainya.Udah ketemu waktu itu dengan Coki Muslim.Dan akhirnya jadinya sering bareng nih.
Iya, akhirnya gue geser.
Kata gue poinnya gini.Lu dianggap membercandakan agama.Dan gue ingin lu mengagamakan canda.Lu jadi platform bersama bagi gue untuk yuk kita bawa tidak hanya tawa, tapi refleksi bagi penonton -penontonnya.Akhirnya kita roadshow tuh.Selain konten digital, kita rusuh kemana -mana.
Sampai ke Bali.Sampai keluar pulau Jawa.Untuk konten toleransi.Jadi Coki Muslim, gue dan pendeta Yeri.Waktu itu.Deep Talk nama programnya.
Sempat lama lah itu ya.Lama.Kemudian bikin pemuda tersesat.
Iya, iya.
Pernah liat juga.Itu.Kemudian...Yaudah panjang.Ya akhirnya bertumbuh dari sana.Sebagai...
Orang yang menyukai komedi sebagai platform juga.Akhirnya bertumbuh, gue juga akhirnya belajar komedi.Oh ya?Iya.Salah satu pembelajaran gue, salah satunya adalah dari komentar -komentar di Suci, komentar -komentar di Suca, kemudian...
Komentar juri maksudnya?
Iya, komentar juri, kemudian podcast -podcast stand -up komedian, kemudian ngobrol -ngobrol dengan stand -up komedian.Makanya, akhirnya ya udah.Dikit -dikit tau lah.I see.
Love 3.
Pernah naik Echo?Pernah.dong?Pernah.Gue pernah di Comica.Oh iya.
Jadi, openernya Sadana Agung.Oke, Sadana Agung.Kalau gak salah ya, openernya Sadana Agung.Dan, gue opening dengan bilang, untuk melihat jejak matinya Nabi Muhammad, lo harus bayar jutaan rupiah pergi ke Turki di museum.Yang adanya di Turki.Dan sekarang, lu melihat jejak hidupnya Nabi Muhammad, modal 150 ribu doang.
Kalau gak ketawa, parah banget sih.Kan ada habib ya.Terus jokes gue juga, waktu itu soal ini.Sebenarnya keresahan.Jadi gua suatu hari tuh pernah diminta untuk ngajarin ngaji.Satu anak orang kaya gitu.
Satu anak orang kaya?Iya.Terus dibayarnya 800 ribu sebulan.Oh sebulan?Iya 4 kali pertemuan.Di bulan kedua atau kesegian.
Eh biar makin seru nih belajarnya di vila aja yuk.Oke, mari kita ke vila di Bogor.Ngaji di vila.Di tengah ngaji, gua ngeliat ada anjing yang binter banget.Kemudian, wih kata gua, itu anjing binter banget.Anjing siapa?
Anjing gua, kata dia.Oh, lu pelihara anjing?Iya.Wah, binter banget ya?Iya, soalnya dia les.Oh, dia les?
"Your service and product truly is the best and best value I have found after hours of searching."
β Adrian, Johannesburg, South Africa
Want to transcribe your own content?
Get started freeIya, ada gurunya.Dan mahal, kata dia.Berapa, kata gua?Sebulan 8 juta.
Mending gue ngajar anjing katanya gue.
Ngajar ngaji!Mempertemukan seorang manusia dengan Tuhan -Nya.800 ribu.Ngajar anjing.Lu lebih menghargai anjing dan guru anjing daripada dengan lu dan gurunya, kata gue.Ada beberapa lah, gue tulis waktu itu.
Tapi, tapi tidak nyantol ya.Maksudnya tidak menjadi sebuah hal yang rutin jadinya ya.Lah, gue tuh, apa...
Pernah mau bikin kayak penampilan.Special show.Iya kayak special show.Gue gak berani klaim itu.Stand up religi.Bukan stand up komedi gitu.
Habib kok gini gitu.Itu ngobrol sama Adriano Kolbi waktu itu.Itu judulnya.
Iya.
Habib kok gini.Habib kok gini.Jadi keresahan -keresahan.Tentang seorang Habib misalnya.
Mas Aris di situ, film berikutnya.Habib Kogini.
Jadi dia punya gitu, akhirnya ngobrol.Satu grup WhatsApp.Bikin grup WhatsApp bersama -sama Tretan Muslim dan Adriano Kolbi.Kayaknya salah juga tongrongan gue ya.Gue, emaknya udah gue cari -cari.
Oh udah.
Tapi kenapa tidak terjadi?Habib Kogini.Udah pernah meeting sama Comika waktu itu.
Tapi mental sih.Maksudnya anda akhirnya mundur sendiri?
Iya.Gue kayak...Memang iya ya orang dateng hanya buat ngedengerin gue berkomedi.
Sedangkan gue bukan profesional komedian.Artinya lebih mental kejualannya atau mental kesiapan materi?Lebih ke kesiapan materi mungkin ya.
Mungkin apa yang gue anggap lucu belum tentu lucu menurut orang lain.
Kalau tips gue justru bikin latihan full materi yang tadi, Habib Kogini itu.Di komedi cafe gitu ya?Itu full sejam, mungkin sejam, satu setengah jam.Keluarin aja.Jadi ga lucunya juga udah tau, ga lucunya di bagian mana gitu.Tapi itu valid ya?
Valid bahwa?Maksudnya, bahwa kalo misalnya gua di cafe ini.Oh yang ini lucu, yang ini enggak.Tapi di kafe lain, yang ini justru yang lucu, yang itu justru enggak.Itu gimana ininya?
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeMencari objektifnya?Gak apa -apa.Karena kalau menurut saya pribadi, stand up itu ditulis di atas panggung.Stand -up itu bukan ditulis di atas kertas.Jadi, cara kita menulis materi stand -up, ini udah ada.Tapi begitu kita taruh di audiens, kita tuh sebenarnya menulis bareng mereka.
Menulis bareng mereka tuh konteksnya adalah, oh gue tau ini ga lucu, ini lucu, ini...Nah, dengan open mic beberapa kali...Probabilitasnya diketahuan ya?Probabilitasnya diketahuan.Kadang mungkin bener, di kafe ini lucu, kok di sini belum?Jadinya apa ya?
Oh itu kan cuma dua.Kalo 12, kan jadi tau.Dan kita bisa belajar, apa jangan -jangan delivery -nya aja yang gue salah ya, bukan materinya ya.Masalahnya cuma di banyaknya latihan sih.
Dan belum ada kan, Habib stand -up komedian.
Iya nggak?
Ada nggak, Dit?
Kayak kalo di Indonesia kayaknya belum ya.Yang punya special show terutama ya.
Iya.
Kayaknya belum ada sih kayaknya.Anda bikin sih.Kalo materi memang udah ada, pernah ada obrolan sama Comika.Kalo saran saya sih, latihan aja.Kalo emang gausah di kafe, karena mungkin ada ekspektasi lain tuh kalo di kafe kan.Habib Jafar kemarin dateng.
Habib Jafar hari ini.Bikin sendiri aja.Kalo kayak saya, bikin di sini.Oh di kantor?Di tempat ini persis.Lima orang, sepuluh orang, lima belas.
Berarti bener -benernya sampe kamu sholah itu tadi?Nggak, kan nggak dibuka di sini aja.Lima belas, sepuluh.Itu cukup untuk kita bisa tau secara objektif, ini udah lucu apa nggak?
Ini udah solid apa nggak?Cukup karena kuncinya ada di frekuensi.Jadi kalau latihan sebelum di show tuh bisa lima belas kali, dua puluh kali, dari yang kecil banget sampe yang gede.Ngejaga agar setelah 15 kali show, kita tetep excited dengan materinya?Kita peduli sama premis -premisnya.Emang itu yang mau kita ceritain.
Bukan kita nulis bikin orang ketawa.Kita nulis karena kita peduli sama yang mau kita ceritain.Ya mirip sama ini kan?Ini kan film ini menjadi lebih...Lebih menyenangkan buat dibuat, karena peduli sama premisnya itu kan.
Iya, walaupun kemudian platformnya...Sebenernya kan sebagai sebuah konten udah dulu, sebagai buku udah dari tahun 2020 -an awal.Kemudian sekarang sampai film.Nah kalau akhirnya dikembangkan, menjadi Habib Stand Up Comedy, itu saran untuk menumbuhkan atau menghancurkan saya ya?Maksudnya?Tadi coba aja Stand Up Comedy.
Kenapa anda suson?Kan itu, kalau saya tujuannya cuma satu.
Itu membahagiakan nggak?Itu ibadah termulia.Masukkan rasa bahagia ke hati orang yang hancur.
Ya maksudnya itu kalau dari sisi penonton kan orang bahagia.Tapi kitanya bahagia.Kalau itu membahagiakan, lakuin aja.Kalau menurut saya itu.Jadi jangan lakuin karena banyak hal.Karena kadang -kadang banyak stand -up komedian.
Kalau anda kan bukan stand -up komedian.Tapi banyak stand -up komedian yang Gua harus bikin special show karena semua temen gua bikin.Kayak semacam cintang yang harus di itu.Itu feelnya beda.
"The accuracy (including various accents, including strong accents) and unlimited transcripts is what makes my heart sing."
β Donni, Queensland, Australia
Want to transcribe your own content?
Get started freeTapi kalo emang itu membahagiakan, bikin lah.Ya itu, itu dua hal.Pertama, yang soal film ini.Itu, gua bikin film ini bukan karena sesuatu di luar diri gua.Tapi sesuatu di dalam diri gua.Meeting dengan banyak PH juga akhirnya gak jadi apapun.
Itu lucu ya?
Bukan?Beneran?Enggak?Oh enggak.Kira -kira kok.
Engga, engga.Engga bercanda gitu.Terusin, terusin.
Itu baru, sengaja.
Kemudian yang kedua adalah tadi.Gua melalui seni Meraui Tuhan tuh ingin...Mungkin membangunkan orang.Jadi kan ada orang yang tau, tapi tidak tau kalau dirinya tau.Tugas kita adalah membangunkan dia, kata Imam Musali.Nah gue pengen membangunkan orang melalui film ini.
Bahwa ada banyak lho kebaikan -kebaikan yang sebenarnya bernilai senirayuan kepada Tuhan.Tapi lu gak sadar sehingga niat lu tidak itu.Dan akhirnya itu gak jadi sesuatu yang lebih besar.Tidak bernilai ibadah.Contohnya tadi yang lu bilang.Itu juga yang terjadi pada Surya Insomnia.
Suatu hari gue main Arisan sama Surya Insomnia, terus kata Surya, Ya biasa lah soal agama.Tapi gua punya keinginan untuk powerfull secara agama gimana ya.Ada celah gede nih menurut gua.Lu setiap mau syuting Arisan, niatin buat ngebahagiain orang lain.Dan itu dalam salah satu arti diskusi dikatakan itu adalah ibadah termuliah.Dan sekarang dia pegang banget itu.
Dia pegang dalam pengertian yang sebenarnya.Dia mau masuk ke Arisan, gua mau bahagiain orang lain.Dia yang cerita di podcast gua.Jadi...Apa, banyak hal yang sebenarnya itu seni merayu Tuhan, tapi orang itu tidak sadari gitu.Contohnya, gue kemarin baru bikin konten tentang ada orang yang kerjaannya motong -motongin besi yang berlebihan di pinggir -pinggir jalan.
Jadi kayak ada tiang udah roboh gitu, kemudian ada bekasnya.Itu kan bahaya buat orang.Itu padahal salah satu cabang terakhir keimanan kata Nabi Muhammad.Yaitu?Menyelamatkan orang dari hal -hal yang bisa membahayakannya di jalan.Jadi membuka jalan kepada orang lain.
Dan kita kembangkan, kata gue membuka jalan ini gak mesti cuman fisik.Bukan cuman mindain paku dari tengah jalan ke pinggir jalan.Tapi membuka jalan pikiran orang lain terhadap segala hal.Membuka jalan hati orang lain untuk bertobat atas kemaksiatannya.Semua itu membuka jalan.Tapi orang yang mindahin paku dari tengah jalan ke pinggir jalan, itu cabang keimanan yang kadang orang ya gak sadar aja gitu.
Atau mungkin terkait dengan pekerjaan kita, stand up komedian, polisi cepek.Itu besar banget nilai ibadahnya.Gue selalu bilang bahwa kata Nabi Muhammad, kerja itu jihad.Bukan cuman ibadah.Kalo mati, mati syahid.Makanya gue kalo di korporate tuh dakwah.
Gue bilang, lu nih harus niatin itu sebagai jihad.Agar kalo lu mati diatas laptop sebagai budak korporate, itu mati syahid.Dia cara korporate dan dia bilang gitu.
Buat karyawannya.
Lu tau, salah satu pembukaan gua kalau di acara korporate, kalau suasananya mendukung, itu gua pake pinjem jokes -nya Awe.Apa tuh?Assalamualaikum orang -orang di belakang, yang punya grup WhatsApp gak ada bossnya yang di depan nih.Bossnya kan di depan.Bossnya di depan.Buat apa?
Ya buat gue bahain bossnya dong.Tapi gak apa -apa kata gua, karena di Jepang itu angka... tinggi karena stress kerja, gitu kata gue.Karena disana kan masih zaman Jepang.Iya dong, kita kan udah gak zaman Jepang.Kayak ada kurang -kurangin bergaul sama stand up koin.Di sini nggak, Alhamdulillah, angka stress kerja tentu lebih tinggi dari Jepang, tapi angka b**** rendah.
Karena kita punya grup WhatsApp yang nggak ada bosnya.Di grup WhatsApp yang ada bosnya, kita selalu bilang noter.Tapi di rumah gak ada bosnya, disanalah mentalitas kita sehat.Bos bacot!
Misalnya nyuruh -nyuruh doang.Ada di teken nih tadi ya.Oke, saya akan bertanya kepada anda pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Mas Arief Asyidik.Masih di Wahana Kreator gak?Masih?Arief Asyidik ketika salah satu sesi development bersama saya untuk film saya yang lain.
Transcribe all your audio with Cockatoo
Get started freeDia kan, saya sempet development sama Wahana Kreator juga waktu itu.Dan nanya, makanya gue mau nanya ke Habib Jafarani.Ketika lampu bioskop menyala, Kan abis nonton filmnya nih, Seni Merayu Tuhan.Satu setengah jam mungkin apa dua jam.Nonton, lampu bioskop nyala.Anda mau penonton hal apa yang mereka lakukan pertama kali pas nyala lampu ini?
Apa bersyukur, apa nelfon orang tua, minta maaf ke orang sebelahnya.Kayaknya nangis deh.Nangis.Iya.Berarti pengen sibuk gini lah.
Iya.
Gitu ya.
Karena menurut gue, kalau sebagai seorang mendawah, air mata yang menetes karena ketulusan itu bisa memadamkan api neraka.
Oh.
Menurut gue air mata yang muncul karena kesadaran, menurut gue itu akan menjadi kekuatan yang besar.Itu akan menjadi titik balik atau titik berangkat yang gede banget.Itu akan menjadi kekuatan yang besar sekali untuk dia.Sehingga gue berharap Bioskop akan menjadi titik bagi dia.Karena menurut gue, hidup itu soal mencari titik kan.Dan titik itu kalau bisa diundang, jangan sampai datang begitu saja.
Tiba -tiba titiknya datang karena kita sakit, karena orang tua kita meninggal.Kalau bisa titik itu dibangun dengan kesadaran.Titik untuk kita bertumbuh, titik untuk kita kembali, dan lain sebagainya.Nah, gue pengen film ini, ketika selesai ditonton, dengan air mata itu, air mata itu menetes menjadi titik dalam hidupnya.Untuk kemudian, ya gue harus bertumbuh.Gue harus telepon ibu gue, gue harus telepon bapak gue, gue harus ziarah ke
kuburannya.Gue harus menyelesaikan masalah pertemanan yang mungkin ada di antara gue dengan orang lain, dan lain sebagainya.Intinya, dan gue selalu bilang, mungkin itu hanya di malam itu.Kan paling kecil frekuensinya, spektrumnya, ada di malam itu aja dia menjadi reflektif, kan?Dan bagi gue gak apa -apa.Karena suatu hari gue pernah dakwah di...
Batam.Kemudian dari ribuan orang yang hadir, salah satunya itu masuknya pake gelang gitu.Gelang kertas gitu.Salah satu yang hadir adalah seorang perempuan.Yang untuk pertama kalinya pake kerudung hari itu.Dan untuk pertama kalinya hadir pengajian.
Kemudian ketika pulang, dia kecelakaan dan meninggal.Dan kata ayahnya, Alhamdulillah bukan innalillah.Karena itu hari pertama gue melihat anak gue dalam versi terbaik yang gue pernah lihat.Dan dia menemui Tuhannya dalam versi terbaiknya.Sehingga gue bersyukur.Ini real story nih?
Real story.Masuk berita waktu itu.Dari kecelakaan dengan pakaian terbaik menurut ayahnya.Dan dengan gelang pengajian setelah hadir acara gue.Dan sudah menyelesaikan semua tugasnya sebagai seorang hamba.Hari itu kita sholat bersama.
Salat Maghrib dan Isya, kemudian hari itu entah kenapa, sesuatu yang jarang banget gua treatment kan di dakwah gua, dobat bersama.Karena pertanyaannya banyak tentang dosa, dosa, dosa, dosa, terus yaudah yuk dobat bersama yuk.Dan dia mengakhiri dengan itu semua.Jadi gua berharap, gapapa kalaupun semalem aja setelah nonton film ini, sejam atau semenit aja, ada waktu mereka kemudian kembali merenungkan dirinya secara umum.sebagai hamba Tuhan, sebagai seorang anak, sebagai seorang ibu, ayah, atau siapapun lo, atau sebagai diri lo sendiri.Maka bagi gue itu cukup.
Karena gue berharap detik itu akan menjadi detik paling kencang sebagai seni merayu Tuhan.Tuhan merasa, iya ini hamba gue.Siap.
Teman -teman, silahkan ditonton film Seni Merayu Tuhan.13 Agustus 2026.Good luck buat Habib Jafar Jogja.Good luck buat semuanya juga.Thank you udah, David.
Get ultra fast and accurate AI transcription with Cockatoo
Get started free β
